Senin, 17 Mei 2010

KEPADATAN DAN KESESAKAN

KEPADATAN DAN KESESAKAN

KONSEP-KONSEP FENOMENA PERILAKU MANUSIA
A। KEPADATAN
Kepadatan atau density mendapat perhatian khusus dari ahli- ahli psikologi lingkungan। Menurut Sundstrom (dalam Wringhtsman & Deaux, 1981) kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan। Atau sejumlah individu yang berada di suatu ruangan atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFarling, 1978; Stokols padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruagannya (Sarwono, 1992)।
Penelitian tentang kepadatan pada manusia berawal dari penelitian terhadap hewan yang dilakukan oleh John Calhoun। Penelitian Calhoun (dalam Worchel dan Cooper, 1983)ini bertujuan untuk mengetahui dampak negatif kepadatan dengan menggunakan hewan percobaan tikus। Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perilaku kanibal pada hewan tikus seiring dengan bertambahnya jumlah tikus। Secara terinci hasil penelitian Calhoun (dalam Setiadi, 1991)menunjukkan hal sebagai berikut:
Pertama, dalam jumlah yang tidak padat( kepadatan rendah), kondisi fisik dan perilaku tikus berjalan normal। Tikus-tikus tersebut dapat melaksanakan perkawinan, membuat sarang, melahirkan,dan membesarkan anaknya seperti halnya kehidupan alamiah। Kedua, dalam kondisi kepadatan tinggi dengan pertumbuhan populasi yang tak terkendali, ternyata memberikan memberikan dampak negative terhadap tikus-tikus tersebut। Terjad penurunan fisik pada ginjal, otak, hati, dan jaringan kelenjar, serta penyimpangan perilaku seperti hiperktif,homoseksual, dan hanibal। Akibat keseluruhan dampak negative tersebut menyebabkan penurunan kesehatan dan fertilitas, sakit, mati, dan penurunan populasi।
Selain itu pengamatan yang dilakukan oleh( dalam Setiadi, 1991) terhadap jenis tikus Norwegia,menunjukan bahwa apabila jumlah kelompok telah terlalu besar (over populated)maka terjadi penyimpangan perilaku tikus-tikus itudengan menceburkan diri ke laut। Hal ini mengakibatkan oleh tidak berfungsinya otak secara wajar karena kepadatan tinggi tersebut। Tentu saja hasil penelitian terhadap hewan ini tidak dapat diterapkan pada manusia secara langsung karena manusia mempunyai akal dan norma dalam hidup bermasyarakat। Oleh karena itu, untuk penelitian kepadatan pada manusia cenderung didasarkan pada manusia cenderung didasarkan pada data sekunder yaitu data- data yang sudah ada, dari data-data tersebut diamati gejala-gejala yang sering muncul dalam masyarakat।
Penelitian terhadap manusia yang pernah dilakukan oleh Bell( dalam Setiadi, 1991) mencoba merinci: bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap kepadatan yang terjadi; bagaimana dampaknya terhadap tingkah laku social; dan bagaimana dampaknya terhadap task performance (kineja tugas)? Hasilnya memperlihatkan ternyata banyak hal-hal yang negative akibat dari kepadatan।
Pertama, ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, sehingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu।
Kedua, peningkatan agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa atau enjadi sangat menurun bila kepadatan tinggi sekali। Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama , dan tolong-menolong sesame anggota kelompok।
Ketiga, terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan। Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menurut hasil kerja yang kompleks।
Dalam penelitian tesebut diketahui pula dampak negative kepadatan lebih berpengaruh terhadap pria atau dapat dikatakan bahwa pria lebih memiliki perasaan negative pada kepadatan tinggi bila dibandingkan dengan perempuan. Pria juga bereaksi lebih negative terhadap anggota kelompok, baik pada kepadatan tinggi ataupun rendah dan wanita justru lebih menyukai anggta kelompoknya pada kepadatan tinggi.
Pebicaraan tentang kepadatan tidak akan terlepas dari masalah kesesakan। Kesesakan merupakan persepsi individu terhadap keterbatasan ruang, sehngga lebih bersifat psikis ( Gifford, 1978: Schmidt dan Keating, 1979; Stokols dalam Holahan, 1982)। Kesesakan terjadi bila mekanisme privasi individu gagal berfungsi dengan baik karena individu atau kelompok terlalu banyak berinteraksi dengan yang laen tanpa diinginkan individu tersebut।
Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan empat faktor:
a। Karakteristik seting fisik
b। Karakteristik seting social
c। Karakteristik personal
d। Kemampuan beradaptasi
Keempat faktor ditambah dengan kepadatan tersebut dapat dirangkum

Berdasarkan keterangan dan gambar diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kepadatan dan kesesakan bukanlah suatu hubungan sebab-akibat, melainkan kepadatan merupakan sala satu syarat terjadinya kesesakan Berikut ini akan dibahas kategori kepadatan dan akibat-akibat kepadatan tinggi.
1। Kategori Kepadatan
Menurut Altman (1975), di dalam studi sosiologi sejak tahun 1920-an, varies indicator kepadatanberhubungan dengan tingkah laku social। Varisi indicator kepadatan itu meliputi jumlah individu dalam sebuah kota, jumlah individu pada daerah sensus,jumlah individu pada unit tempat tinggal, jumlah ruangan pada unit tempat tinggal,jumlah bangunan pada lingkungan sekitar dan lain-lain।
Kepadatan dapat dibedakan ke dalambeberapa kategori। Holahan (1982) menggolongkan kepadatan ke dalam dua kategori,yaitu kepadatan spasial yang terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil sedangkan jumlah individi tetep, sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruangan, dan kepadatan sosialyang terjadi bila jumlah individu ditambah tampa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapat kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu। Altman (1975) membagi kepadatan menjadi kepadatan dalam yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruangan atau tempat tinggal seperti kepadatan dalam rumah,kamar: dan kepadatan luar yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, sepertijumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah permukiman।
Zlutnick dan Altman menggambarkan sebuah modeldua dimensi untuk menunjukkan beberapa macam tipe linkungan permukiman, yaitu:
1। Lingkungan pinggirankota, yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang rendah
2। Wilayah desa miskin dimana kepadatan dalam tinggi sedangkan kepadatan luar tinggi
3। Lingkungan mewah Perkotaan, diman kepadatan dalam rendah sedangkan kepadatan luar tinggi
4। Perkampungan kota yangditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang tinggi।

2। Akibat- akibat Kepadatan Tinggi
Menurut Heimstra dan Mc Farling (1978) menberikan akibat bagi manusia baik secara fisik,social maupun psikis। Akibat secara fisik yaitu reaksi fisik yang didasarkan individu sepertipeningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain।
Akibat secara psikis:
a। Stress, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negative, rasa cemas,stresdan perbahan suasana hati
b. Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung untukmenarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
c। Perilaku menolong kepadatan tinggi juga menurunkan keingina individu untuk menolong.
d. Kemampuan mengerjakan tugas, situasi dapat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugasnya pada saat tertentu.
e. Perilaku agresi, situasi yang padat dialami individu dapat menumbuhkan frustasi dan kemarahan, serta pada akhirnya akan terbentuk perlaku agresi

B। KESESAKAN

Menurut Altman (1975) kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan yang lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil। Perbedaan pengertian antara kesesakan dan kepadatan sebagaiman yang telah dibahas terdahulu tidaklah jelas benar, bahkan kadang-kadang keduanya memiliki pengertian yang sama dalam merefleksikan pemikiran secara fisik dari sejumlah manusia dalam suatu kesatuan ruang।
Adapun kesesakan dikatakan sebagai keadaan motivasional yang merupakan interaksi dari faktor spatial, social dan personal, dimana pengertiannya adalah persepsi individu terhadap keterbatasan ruang sehingga timbul kebutuhan akan ruang yang lebih luas। Jadi rangsangan berupa hal-hal yang berkaitan dengan keterbatasan ruang disini kemudian diartikan sebagai suatu kekurangan।
Kesimpulan yang dapat diambil adalah pada dasarnya batasan kesesakan melibatkan persepsi tentang terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia, dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang diras selali banyak। Berikut ini akan dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi kesesakan dandan pengaruh kesesakan terhadap perilaku।
1। Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesesakan
Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kesesakan yaitu : personal, social, dan fisik, yang akan dibahas satu persatu।
Faktor Personal। Fakltor personal terdiri dari control pribadi dan locus of control ; budaya, pengalaman, dan proses adaptasi ; serta jenis kelamin dan usia।
a। Control pribadi dan locus of control
Seligman dan kawan-kawan mengatakan bahwa kepadatan tinggi baru akan menghasilkan kesesakan apabila individu sudah tidak mempunyai control terhadap lingkungan di sekitarnya , sehingga kesesakan dapat dikurangi pengaruhnya bila individu tersebut memainkan peran control pribadi di dalamnya।
b। Budaya, pengalaman, dan proses adaptasi
Suatu penelitian yang dilakukan oleh Nasar dan min yang mencoba membandingkan kesesakan yang dialami oleh orang Asia dan orang Mediterania yang tinggal diasrama yang sama di Amerika Utara, menemukan adanya perbedaan persepsi terhadap kesesakan pada individu dengan latar belakang budaya yang berbeda, diman orang mediterania merasa lebih sesak dari pada orang Asia

Faktor Sosial।menurut Gifford (1987)secara personal individu dapat lebih banyak atau lebih sedikit mengalami kesesakan cenderung dipengaruhi oleh karakteristik yang sudah dimiliki। Akan tetapi pengaruh orang lain dalam lingkungan dapat juga memperburuk keadaan akibat kesesakan। Faktor- faktor social yang berpengaruh tersebut adalah:
a। Kehadiran dan perilaku orang lain
Kehadiran orang lain akan menimbulkan perasaan sesak apabila individu merasa terganggu dengan kehadiran orang lain।
b। Formasi koalisi
Keadaan ini didasari pada pendapat yang mengatakan bahwa meningkatnya kepadatan social akan dapat meningkatkan kesesakan।
c। Kualitas hubungan
Kesesakan menurut penelitian yang dilakukan oleh Schffer dan Patterson sangat dipengaruhi oleh seberapa baik seseorang individu dapat bergaul denghan orang lain।
d। Informasi yang tersedia
Kesesakan juga dipengaruhi oleh jumlah dan bentuk informasi yang muncul sebelum dan selama mengalami keadaan yang padat

Faktor Fisik। Gove dan Hughes (1983) menemuka bahwa kesesakan di dalam rumah berhubungan dengan faktor-faktor fisik yang berhubungan dengan kondisi rumah seperti jenis rumah, urutan lantai, ukuran rumah dan suasan sekitar rumah।

Faktor situasional terdiri dari:
a। Besarnya skala linkungan
b। Variasi arsitektural

2। Pengaruh Kesesakan terhadap Perilaku

Bila suatu lingkungan berubah menjadi sesak (crowded), sumber-sumber yang ada didalamnya pun bisa menjadi berkurang, aktifitas seseorang akan terganganggu oleh aktifitas orang lain, interaksi interpersonal yang tidak diinginkan akan mengganggu individu dalam mencapai tujuan personalnya,gangguan terhadap norma tempat dapat meningkatkan gejolak dan ketidaknyamanan serta disorganisasi keluarga, agresi penarikan diri secara psikologis dan menurunnya kualitas hidup।
Sampai sekarang ada beberapa ahli yang tetap beranggapan bahwa kesesakan tidak hanya berpengaruh negative bagi individu tetapi bisa juga berpengaruh positif।
Freedman(1975) memandang kesesakan sebagai suatu keadaan yang dapat bersifat positif maupun negative tergantung dari situasinya. Jadi kesesakan dapat dirasakan sebagai suatu pengalaman yang kadang-kadang menyenagkan dan kadang-kadang tidak menyenagkan. Bahkan dari banyak penelitiannya diperoleh kesimpulan bahwa kesesakan sama sekali tidak bepengaruh negatif terhadap objek penelitian.
Pengaruh negative kesesakan tercermin dalam bentuk penurunan-penurunan psikologis, fsiologis, dan hubungan social individu। Pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kesesakan antara lain adalah perasan kurang nyaman, stress, kecemasan, suasana hati yang kurang baik, prestasi kerja dan prestasi belajar menurun, agresivitas meningkat, dan bahkan juga gangguan mental yang serius।
Individu yang berada dalam kesesakan juga akan mengalami malfungsi fisiologis seperti meningkatnya tekanan darah dan detak jantung, gejala-gejala psikosomatis, dan penyakit fisik yang serius।
Perilaku social yang sering kali timbul karena sitasi yang sesak antara lain adalah kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong-royong dan saling membantu, penarikan diri dari lingkungan social, berkembangnya sikap acuh tak acuh, dan semakin berkembangnya intensitas hubungan social(Holahan, 1982)।
Dari beberapa penelitian Baum dkk menyimpulkan bahwa kepadatan social lebih aversif daripada kepadatan ruang। Kepadatan ruang sering memunculkan masalah hanya pada laki-laki saja karena dalam situasi padat laki-laki lebih bersikap konpetitif। Kebanyakan masalh kepadatan muncul karena terlalu banyaknya orang dalam suatu ruangan dari pada masalah-masalah yang ditimbulkan karena terbatasnya ruangan।
Menurut hipotesis interaksi yang tidak diinginkan, efektif negative dari kesesakan terjadi karena dalam situasi sesak kita memenuhi lebih banyak interaksi dengan orang lain dari pada yang kita inginkan ( Baum & Valine dalam Watson dkk, 1984)। Sementara menurut hipotetis kehilangan control, akibat negative dari kesesakan terjadi karena kesesakan menyebabkan kita kehilangan control selama kejadian

copy@right yang_awesome87@yahoo.com
teori arsitektur gunadarma

Minggu, 11 April 2010

Privacy, Personal Space dan Teritorial


Privasi adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka.

Konsep ‘privacy’ dalam arsitektur bisa diartikan sebagai suatu kebutuhan manusia untuk menikmati sebagian dari kehidupan sehari-harinya tanpa ada gangguan baik langsung maupun tidak langsung oleh subjek lain. Hal ini dinyatakan dalam suatu ruang yang tertutup dari jangkauan pandangan maupun fisik dari pihak luar. Jadi jelas ada batasan-batasan fisik untuk mencapainya.

Psikologi mengartikan ‘privacy’ sebagai kebebasan pribadi untuk memilih apa yang akan di sampaikan. Dengan perkataan lain, ‘privacy’ dalam psikologi belum tentusampaikan atau dikomunikasikan tentang dirinya sendiri dan kepada siapa akan disampaikan akan tercipta hanya dengan adanya batasan-batasan fisik saja. Psikologipun mengklasifikasikan ‘privacy’ ini menjadi: ‘solitude’ yang berarti kesunyian, ‘intimacy’ atau keintiman, ‘anonymity’ atau tanpa identitas, dan ‘reserve’ yang berarti kesendirian.

Privacy memiliki 2 jenis penggolongan,
1. Golongan yang berkeinginan untuk tidak diganggu secara fisik.
a. Keinginan untuk menyendiri (solitude)
Misalnya ketika seseorang sedang dalam keadaan sedih dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
b. Keinginan untuk menjauhkan dari pandangan atau gangguan suara tetangga / lalu lintas (seclusion)
Misalnya saat seseorang ingin menenangkan pikirannya , ia pergi ke daerah pegunungan untuk menjauhkan diri dari keramaian kota.
c. Keinginan untuk intim dengan orang-orang tertentu saja, tetapi jauh dari semua orang (intimacy)
Misalnya orang yang pergi ke daerah puncak bersama orang-orang terdekat seperti keluarga.

2. Golongan yang berkeinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang berwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang dianggap perlu.
a. Keinginan untuk merahasiakan jati diri (anaonimity)
b. Keinginan untuk tidak mengungkapkn diri terlalu banyak kepada orang lain (reserve)
c. Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga (not neighboring)


Dalam hubungannya dengan orang lain, manusia memiliki referensi tingkat privasi yang diinginkannya. Ada saat-saat dimana seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain (privasi rendah) dan ada saat-saat dimana ia ingin menyendiri dan terpisah dari orang lain (privasi tunggu). Untuk mencapai hal itu, ia akan mengkontrol dan mengatur melalui suatu mekanisme perilaku.

A. Perilaku Verbal
Perilaku diamana dengan cara mengatakan kepada orang lain secara verbal,sejauh mana orang lain boleh berhubungan dengannya.misalnya dengan berkata, “maaf, saya tidak punya waktu”

B. Perilaku non verbal
Perilaku ini dilakukan dengan menunjukan ekspresi wajah atau gerakan tubuh tertentu sebagai tanda senang atau tidak senang.

C. Mekanisme Kultural
Biasanya berkaitan dengan adat istiadat, aturan atau norma yang menggambarkan keterbukaan atau ketertutupan kepada orang lain.

D. Ruang Personal
Ruang personal adalah salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi tertentu.
Beberapa karakterisitik ruang personal menurut Sommer (dalam altman,1975),
pertama, batas diri yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain. Kedua, ruang personal itu tidak berupa pagar yang tampak mengelilingi seseorang dan terlerak di suatu tempat tetapi batas itu melekat pada diri dan dibawa kemana-mana. Ketiga, ruang personal adalah batas kawasan yang dinamis, yang berubah-ubah besarnya sesuai dengan waktu dan situasi. Keempat, pelanggaran ruang personal ini akan dirasakan sebagai ancaman sehingga daerah ini dikontrol dengan kuat.

Personal space/ruang pribadi adalah kawasan sekitarnya seseorang yang mereka anggap sebagai psikologis mereka. Invasi ruang pribadi sering menyebabkan ketidaknyamanan, kemarahan, atau kecemasan pada pihak korban. (Edward T. Hall , yang gagasannya dipengaruhi oleh Heini Hediger)

Ruang pribadi adalah sangat bervariasi. Mereka tinggal di sebuah tempat yang berpenduduk padat cenderung memiliki ruang pribadi yang lebih kecil.Warga India cenderung memiliki ruang pribadi lebih kecil daripada di Mongolia padang rumput, baik dalam hal rumah dan individu. Untuk contoh yang lebih rinci, lihat kontak Tubuh dan ruang pribadi di Amerika Serikat.
Ruang pribadi telah berubah historis bersama dengan batas-batas publik dan swasta dalam budaya Eropa sejak Kekaisaran Romawi. Topik ini telah dieksplorasi dalam A History of Private Life, di bawah redaktur umum Philippe Aries dan Georges Duby, diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Belknap Press.
ruang pribadi adalah juga dipengaruhi oleh posisi seseorang dalam masyarakat dengan individu-individu lebih makmur menuntut ruang pribadi yang lebih besar. Orang membuat pengecualian terhadap, dan memodifikasi persyaratan ruang mereka. Misalnya dalam pertemuan romantis tegangan dari jarak dekat yang memungkinkan ruang pribadi dapat ditafsirkan kembali ke semangat emosional. Selain itu, sejumlah hubungan memungkinkan untuk ruang pribadi untuk dimodifikasi dan ini termasuk hubungan keluarga, mitra romantis, persahabatan dan kenalan dekat di mana tingkat yang lebih besar dari kepercayaan dan pengetahuan seseorang memungkinkan ruang pribadi harus dimodifikasi.


Teritorialitas
Pembentukan kawasan teritotial adalah mekanisme perilaku untuk mencapai privasi tertentu. Kalau mekanisme ruang personal tidak memperlihatkan dengan jelas batas-batasan antar diri dengan orang lain, maka pada teritorialitas batas-batas tersebut nyata dengan tempat yang relative tetap.

Karakter dasar dari suatu teritori yaitu tentang
1. Kepemilikan dan tatanan tempat.
2. Personalisasi atau penandaan wilayah.
3. Taturan atau tatanan untuk mempertahankan terhadap gangguan
4. Kemampuan berfungsi yang meliputi jangkauan kebutuhan fisik dasar sampai kepuasan kognitif dan kebutuhan aesthetic

Teritorialitas berfungsi sebagai proses sentral dalam personalisasi, agresi, dominasi, koordinasi dan kontrol.
a). Personalisasi dan penandaan.
Personalisasi dan penandaan seperti memberi nama, tanda atau menempatkan di lokasi strategis, bisa terjadi tanpa kesadaran teritorialitas. Seperti membuat pagar batas, memberi nama kepemilikan. Penandaan juga dipakai untuk mempertahankan haknya di teritori publik, seperti kursi di ruang publik atau naungan.

b). Agresi.
Pertahanan dengan kekerasan yang dilakukan seseorang akan semakin keras bila terjadi pelanggaran di teritori primernya dibandingkan dengan pelanggaran yang terjadi diruang publik. Agresi bisa terjadi disebabkan karena batas teritori tidak jelas.
c). Dominasi dan Kontrol.
Dominasi dan kontrol umumnya banyak terjadi di teritori primer. Kemampuan suatu tatanan ruang untuk menawarkan privasi melalui kontrol teritori menjadi penting.

3. Teritori sebagai perisai perlindungan.
Banyak individu atau kelompok rela melakukan tindakan agresi demi melindungi teritorinya, maka kelihatannya teritori tersebut memiliki beberapa keuntungan atau hal yang dianggap penting. Kebenaran dari kalimat ” Home Sweet Home”, telah diuji dalam berbagai eksperimen. Penelitian mengenai teritori primer, skunder, dan publik menunjukkan, bahwa orang cenderung merasa memiliki kontrol terbesar pada teritori primer, dibanding dengan teritori sekunder maupun teritori publik. Ketika individu mempresepsikan daerah teritorinya sebagai daerah kekuasaannya, itu berarti mempunyai kemungkinan untuk mencegah segala kondisi ketidak nyamanan terhadap teritorinya.
Seringkali desain ruang publik tidak memperhatikan kebutuhan penghuninya untuk memanfaatkan teritori yang dimilikinya.

Sabtu, 27 Maret 2010

Kualitas Space dan Hubungan ke Sosial Perilaku Akademik Ruang Terbuka

*Department of Architecture, University of Jordan, P.O. Box 926966, Amman 11190, Jordan
E-mail: samabughaz@yahoo.com
**Department of Architecture, University of Jordan, P.O. Box 3266, Amman 11181, Jordan

© Kamla-Raj 2009

Samer Abu-Ghazalah* and Jawdat Al-Goussous

content="Microsoft Word 12">

ABSTRAK Akademik ruang terbuka membimbing siswa melalui pergerakan dan bentuk universitas ini 'lingkungan desain mereka dan kualitas ruang. Mereka adalah siswa begitu penting dalam kehidupan. Pada tahun akademik 1991/1992 Isra Universitas didirikan dengan hanya 539 siswa dan 5 perguruan tinggi. Jumlah siswa sejak kemudian meningkat dramatis dan jumlah total untuk tahun akademik 2006/2007 telah mencapai sedikit di atas 7.300 siswa. Ada, sebagai hasilnya, peningkatan besar tekanan pada Universitas prasarana umum, fasilitas dan ruang publik yang terbuka, di mana Main Square adalah di antara mereka utilitas yang telah mencapai puncak kejenuhan. Dalam studi ini, masalah kapasitas dari ruang yang paling populer, sehingga disebut kuadrat dari Square Utama di Universitas Isra akan ditangani dan evaluasi ruang terbuka akan dilakukan berfokus pada perilaku sosial. Kuesioner yang tujuannya adalah untuk mengevaluasi ruang terbuka dari Universitas Isra melalui pemahaman siswa 'pemetaan perilaku dilakukan selama dua minggu pada bulan November 2006. Studi ini akan memeriksa efek dari lingkungan spasial atas perilaku siswa Universitas Isra, sehubungan dengan ruang terbuka, dan akan berkonsentrasi pada kualitas desain Utama Square, perilaku manusia di dalam Main Square, tengara dalam Square Utama dan wayfinding di dalamnya. Sejumlah rekomendasi yang disarankan pada akhir untuk memperbaiki lingkungan spasial.

Universitas Isra, yang menyaksikan peningkatan besar dalam jumlah siswa, adalah menghadapi utama masalah dalam ruang terbuka persegi Utama. Itu situasi sekarang ini, dalam hal kapasitas, jenuh dan siswa tidak dapat menemukan jalan untuk akademi karena buruknya sistem signage dan adanya tengara seperti yang akan kita lihat nanti. Di studi ini, evaluasi situasi sekarang ruang terbuka di Universitas Isra akan dilaksanakan luar. Studi ini akan dibagi menjadi beberapa.
komponen: pertama, kualitas desain yang terbuka ruang akan dianalisis. Kedua, studi tentang perilaku manusia di dalam akan Square Utama dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai kegiatan manusia, seperti duduk, berdiri, belajar, makan, bersosialisasi dan lain-lain. Ketiga, studi tentang tengara dalam Square Utama akan diperiksa secara bersamaan dengan sisi ke sisi penelitiann sistem navigasi dan pengalaman manuver. Sebuah studi visual kemampuan spasial ruang terbuka ini akan dipelajari dengan tiga komponen, orientasi spasial, spasial visualisasi dan hubungan spasial, dan jumlah foto akan dianalisis. Keempat yang wayfinding dalam akan Square Utama mempelajari secara mendetail.



yang mengatur kembali dan relokasi akan meningkatkan orang persentase dan akan memecahkan masalah-masalah lain wayfinding dan orientasi. Menilai hipotesis penelitian, Chi-Square Test dilakukan dan persamaan

Kegiatan berlangsung di Main Square. Itu paling penting adalah menembus melalui ruang untuk mencapai sebuah bangunan atau ruang kuliah terutama pagi 8-11 Antara11 dan 1 kegiatan bergeser ke berbicara dan 1-2 kegiatan pergeseran untuk beristirahat dan makan di mana ada satu jam istirahat untuk hampir semua siswa. Pada sesi sore, kegiatan berkisar beristirahat, minum dan berbicara. Untuk menguji hasil penghitungan di meja satu,

Chi-Square Test diterapkan. Tes menunjukkan bahwa χ2 (dihitung) adalah> X '(ditunda) dan ada perbedaan yang signifikan antara variabel-variabel atau lebih disebut subjek dalam setiap persegi. Tabel 2 menilai ruang terbuka dalam hal desain. Pertanyaan nomor 1 berhubungan dengan kualitas ruang terbuka di mana sebagian besar pertama mahasiswa tahun, 75% dari peserta, lakukan seperti desain ruang terbuka terutama karena yang
skala manusia ruang, seperti terlihat dalam pertanyaan.

nomor 3, di mana 65% dari sampel siswa pertama melihat ketinggian bangunan di sekitarnya sesuai untuk mencapai 78% untuk tahun keempat siswa. Alasan kedua untuk mengagumi Ruang Square utama mungkin karena luas perkebunan di dalamnya pertanyaan di mana angka 6 mendukung hal ini dan menunjukkan variasi persentase dari 88% menjadi 92% dari tahun pertama siswa sampel kepada mahasiswa tahun keempat 'sampel. Sebagai mahasiswa lebih tua, persentase ini mengagumi Square Utama menurun hingga mencapai 64% untuk tahun keempat siswa. The Square memiliki pendekatan yang berbeda dari berbagai pihak karena hanya tidak ada batas-batas tertentu. Pertanyaan nomor 7 pada meja yang sama, yaitu tentang kualitas batas Square Utama, mendukung hal ini, mana persentase melihat pasti dan batas-batas yang sesuai menurun dari 35% untuk mahasiswa tahun pertama sampel sampai 19% untuk keempat mahasiswa tahun sampel. Hal ini disebabkan tidak adanya identitas dan kualitas ruang ruang terbuka karakteristik. Hambatan di dalam ruang terbuka, yang mengendalikan gerakan rakyat, dan langsung wayfinding, dapat simbolis atau nyata sebagaimana dimaksud sebelum. Pohon, yang merupakan penghalang simbolik, yang ditanam secara acak di dalam Square Utama yang tidak dapat membentuk penghalang apapun. Langkah-langkah yang ditemukan di dalam Main Square dan bukan di tepi untuk membentuk sebuah penghalang. Tidak jelas tanda-tanda yang ditemukan. Hanya dinding bangunan kepresidenan membentuk nyata penghalang di barat Square Utama. Tidak berdiri sendiri dinding ada. Baik simbolis dan nyata hambatan diabaikan dalam Square Utama sebagai
jelas dalam angka 5 dan 6.

Perilaku manusia tergantung pada rakyat mental lingkungan spasial. Itu mental digunakan untuk gerakan langsung dan pengalaman yang digunakan untuk memodifikasi representasi (Sadalla dan Montello 1989). Persepsi spasial manusia berbeda dari yang lain persepsi karena selalu mungkin untuk memverifikasi melalui beberapa indera penglihatan, pendengaran dan menyentuh.

Peta kognitif miskin dalam studi kasus kami, yang diambil dari Universitas Isra seperti terlihat dari tabel 2. Ini
peta kognitif biasanya berkembang dari mental tengara, yang tidak ada dalam studi kasus kami, untuk peta rute mental dan seharusnya hasil akhirnya dalam survei mental peta, yang berkaitan dengangerakan mahasiswa di ruang terbuka. Mengingat apa yang telah dilihat ketika berjalan atau bergerak melalui ruang terbuka menciptakan gerakan ini. Tengara, yang hilang dalam studi kasus kami, adalah komponen dasar pengetahuan spasial. Tengara, yang merupakan lokasi yang mudah diingat membantu mengarahkan navigator, disimpan di deklaratif pengetahuan struktur (Passini 1984). Mereka sangat penting dalam wayfinding, bukan hanya untuk pertama kalinya, tetapi juga sebagai pengalaman kami di ruang terbuka meningkat, kita dapat belajar bagaimana mengidentifikasi mereka dari perspektif baru. Landmark pengetahuan menjadi lebih berharga saat kita belajar untuk berhubungan spasial Landmark individu kepada orang lain dalam lingkungan.
Sebuah konstruksi jarak dan orientasim hubungan akan menghasilkan.
Ini berarti bahwa jika kita tegak serangkaian Landmark di kampus Isra Universitas rute yang lebih baik akan menghasilkan pengetahuan. Satu ucapan terakhir harus disebutkan di sini yang merupakan kebutuhan mendesak untuk membenarkan desain
studi kasus kami, Main Square, sebelum masalah bahkan menjadi lebih buruk karena terus meningkatkan siswa di berikutnya akademik tahun.